Minggu, 04 Juni 2017

My Cerpen : "Segitiga Kehidupan"

Assalamu'alaikum, haihaihalloo.... Kali ini aku akan membagikan cerpen karanganku yang ditolak sama sebuah majalah wkwk. Mungkin karena emang kurang bagus ya :'( huhu. Tp gak apa-apa lah, itung-itung iseng buat cerpen. Aku juga mau bantu kalian-kalian yang lagi cari-cari cerpen atau ada tugas nyari cerpen mungkin, tapi nanti kalo mau ambil cerpen aku, ditulis ya karyanya.. karya Sainada Oktoby :v wkwk. Intinya NO JIPLAK yaa hahaha.
Inilah Mahakarya aku... :D

_____________________________________________________________

Tria. Begitulah namanya. Seorang anak perempuan berhijab yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah SMA. Melihatnya begitu aneh. Tidak ada yang mau mendekatinya sebagai teman. Banyak orang prihatin dan kasihan dengan kondisinya. Kondisi dengan tubuh mungil dan bisa dibilang agak dekil tak mengurus diri. Padahal, dia sudah kelas XII SMA. Kesehariannya selalu sendiri. Semua orang di sekolah, menganggapnya tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Tidak pandai berolahraga, tidak pandai dalam bidang seni, tidak nyambung di ajak mengobrol, bahkan bodoh dalam pelajaran di kelas. Semua memandang ia lemah. Kehidupannya bagai segitiga. Susah untuk berputar.

Tapi, ada hal yang saya senangi darinya. Dia adalah anak yang rajin membantu. Di pagi hari, dia sudah sampai sekolah jam setengah 6. Kemudian, dia membantu para petugas kebersihan sekolah untuk menyapu, membuka kunci-kunci kelas, dan menyirami tanaman. Bahkan setelah pulang sekolah, dia membersihkan masjid dan baru pulang jam setengah 6 sore. Saya sering memperhatikannya. Dia juga sering membantu saya merapikan ruang BK tempat saya bekerja. Anaknya memang sangat baik. Menurut saya, belum ada murid sebaik Tria yang saya temukan di sekolah ini selama 2 tahun terakhir saya di sini.

Perkenalkan, nama saya Anda Mila. Biasa dipanggil murid-murid, Ibu Mila. Saya adalah seorang psikolog yang bekerja di salah satu SMA Swasta di Jakarta. Yang menangani anak-anak bermasalah yang melanggar aturan sekolah, dan anak-anak yang mempunyai masalah di lingkungannya, seperti Tria.

Hari ini adalah hari awal untuk bekerja kembali. Seperti biasa, saya berangkat di antar suami yang juga akan bekerja. Saya berangkat jam setengah 6 dan sampai jam 6 di sekolah. Tapi, hari ini berbeda. Saya tidak melihat Tria menyirami tanaman bersama para petugas kebersihan sekolah. Kemana dia? Saya menanyakan hal ini pada salah seorang petugas kebersihan.

"Pak Jaya, si Tria kok gak ada?"
"Ndak tau, belum kelihatan daritadi."

Kemana dia? Apa dia terlambat? Saya tidak ingin dia masuk dalam catatan BK sebagai siswa-siswi bermasalah dengan aturan. Saya berdiri di depan gerbang sekolah menyambut siswa-siswi datang. Tapi sudah jam setengah tujuh, saya tidak melihat Tria.
Saya coba bertanya kepada wali kelasnya, Bapak Nurdin.

"Pak, si Tria kemana? Biasanya udah datang jam setengah 6, kok sampe gerbang ditutup gak ada ya, Pak?"
"Loh? Dia gak izin sama saya, Bu. Nanti coba saya tanya ke teman sekelasnya ya."

Tiba-tiba, datang teman sekelas Tria yang bernama Mahmudah menghampiri Pak Nurdin. Saya dan Pak Nurdin turut menanyakan tentang Tria.

"Eh, Mahmudah. Tria memangnya gak masuk?" Tanya Pak Nurdin.
"Nah, saya ke sini mau tanya itu, Pak. Saya mau tanya absennya Tria gimana nih? Saya kira dia izin ke Bapak."
"Loh, dia gak izin sama Bapak tuh."
"Kok tumben dia gak masuk ya Dah?" tanya saya pada Mahmudah.
"Gak tau, Bu. Yaudah deh, saya alfain aja ya?"
"Yaudah iya, nanti kalau ada pemberitahuan dari Tria, Bapak kasih tau deh."

Kemana Tria?
Sekitar 10 hari Tria tidak masuk sekolah. Apa penyebabnya? Saya mencoba mencari tahu sendiri karena memang Pak Nurdin wali kelasnya tidak diberi tahu keterangan apa-apa. Sepulang dari sekolah, saya mencari data rumah Tria. Saya pergi ke sana naik gojek. Daerah rumahnya ada di sekitar pinggiran kali Ciliwung.

Ketika saya sampai, saya kaget melihat kondisinya. Rumah-rumah di sini sangat kumuh. Bau, dan penuh sampah. Sungguh sebuah kehidupan yang keras yang harus dilalui Tria. Saat itu, saya melihat seorang Bapak tua yang sedang membersihkan sampah. Saya mencoba bertanya keberadaan rumah Tria pada Bapak itu.

"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam. Ada apa ya, Bu?"
"Saya ingin tanya rumah Tria. Bapak kenal tidak? Anaknya agak kecil."
"Oh, Tria? Dia biasanya kalo libur, jam segini lagi ngamen, Bu."
"Libur? Ngamen? Ngamen dimana ya, Pak?"
"Biasanya di perempatan lampu merah, Bu."
"Hmm, tapi Bapak tau rumahnya?"
"Tau. Mau saya tunjukin jalannya gak?"
"Boleh, Pak."
"Sok, monggo."

Saya menyusuri jalan setapak yang sangat kumuh. Benar-benar kumuh. Dan sampailah saya di rumah Tria. Inikah yang disebut rumah? Sebuah rumah yang terbuat dari kardus? Saya tercengang melihatnya.

"Assalamu'alaikum?"
Saya mengucapkan salam untuk menguji apakah ada orang di sini atau tidak.

"Eh iya, wa'alaikumsalam. Dengan siapa ya?"
Seorang ibu tua yang keluar dari rumah kardus itu.

"Ibu orang tua dari Neneng Tria?"
"Iya, saya ibunya. Ibu ini siapa ya?"
"Saya Anda Mila, guru psikologi sekolah Tria."
"Oh, iya Bu. Saya minta maaf ya, Tria gak masuk-masuk. Saya gak ada duit buat ongkosnya Tria. Hasil mulung gak mencukupi. Tiap hari juga Tria ngamen buat ongkos besok sekolah."

Saya tercengang lagi mendengar perkataan dari Ibunya Tria. Semangatnya untuk sekolah sungguh luar biasa. Orang tuanya begitu mendukung walaupun tidak mampu. Kekaguman saya bertambah pada anak itu. Meskipun dinilai orang tak berprestasi, tapi dia sungguh bersemangat. Bahkan menurut saya, itulah kelebihannya yang jarang dimiliki anak-anak lain seusianya. Berjuang untuk bersekolah meskipun masih kesulitan mendapatkan sesuap nasi.

Tak lama kemudian, Tria datang. Dia seperti kaget melihat saya ada di depan rumahnya.

"Ibu? Ngapain di sini?"
"Saya coba cari tahu kemana kamu selama 10 hari ini. Biasanya kan, tiap pagi saya lihat kamu bantuin Pak Jaya, Pak Mamat, sama Bu Inem nyiram tanaman. Kok sekarang kamu gak sekolah-sekolah?"
"Maafkan saya ya, Bu. Saya gak pernah ngasih tau kondisi saya yang... ya, ginilah hehe. Saya gak bisa sekolah karena kurang ongkos Bu, akhir-akhir ini banyak sekali keperluan bayaran adik saya di sekolahnya. Jadi saya masih nabung uang untuk ongkos sekolah."
"Iya saya ngerti kok, hmm, besok sekolah ya. Nanti Ibu tambahin ongkosnya. Udah mau UN loh, sebulan lagi."
"Aduh nanti jadi ngerepotin. Gak usah, Bu."
"Udahlah, gak apa-apa. Ya? Ini Ibu kasih ongkosnya, sekalian sebagai ucapan terimakasih dari Ibu karena kamu sering bantu-bantu Ibu. Nih ya."
"Ya Allah, Bu.. Terimakasih banyak ya, insyaallah besok saya mulai sekolah lagi. Terimakasih juga Ibu udah mau ke sini."

Wajahnya yang ceria ketika saya memberinya uang seratus ribu rupiah, membuat saya juga ikut bahagia membantunya. Saya pun merasa sangat lega sekali setelah bertemu dengan Tria. Tanpa banyak basa-basi, saya segera pamit pulang.

"Hehe, yaudah deh, saya pamit dulu ya Bu, Tria. Takut suami saya udah nunggu di rumah." ucap saya sambil tersenyum.

Saya pun pamit dan meninggalkan rumah Tria.

****

Itu adalah kejadian yang masih terlintas dalam pikiran saya. Siswi yang begitu baik, yang tak pernah saya temui setelahnya. Kejadian 6 tahun yang lalu, dimana saat itu saya merasa menjadi seorang guru sekaligus psikolog yang baik. Yang saya dengar kabarnya sekarang, Tria tinggal di Medan dan sudah menikah dengan seorang laki-laki berdarah Medan dan menjadi pengusaha kue Bika Ambon yang terkenal dan memiliki cabang di Jakarta dan Bandung.

Saya benar-benar merasa bangga dengan Tria. Seorang anak perempuan yang dulunya sering di bully, kini sudah menjadi pengusaha terkenal. Dia sudah berhasil membalik segitiga kehidupannya menjadi lebih baik. Cerita ini juga saya jadikan motivasi bagi anak bimbingan konseling saya di sekolah. Dan saya berharap, tidak ada lagi yang bermalas-malasan sekolah serta semakin banyak yang bercita-cita untuk meraih sebuah kesuksesan seperti Tria.

________________

Jumat, 02 Juni 2017

Memilih Universitas (Kampus)

Assalamualaikum, hari ini aku mau cerita nih tentang universitas gitu. Aku adalah fresh Graduate (baru lulus MAN) jadi pastinya udah harus nentuin universitas dong yaaa.. sekarang Alhamdulillah aku udah dapat tempat kuliah ni hehe. Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :) Yeaay..aku lolos SNMPTN di prodi Akuntansi !! Horeee.. gak pake tes-tes lagi dan langsung daftar ulang dapat almamater hoho. Enaknya yaa.. eh bagi yg baca blog aku, jgn nyepelein aku segampang itu masuknya. Perjuangan aku udah mulai dari kelas 10 loohhh :') hhah. Tapi aku sekarang mau flashback lagi ni hehe. Gimana perjuangan aku milih universitas sampe akhirnya aku menetapkan pilihan aku di UIN Jakarta. Hmm, gini ceritanya!

Awal pas SNMPTN muncul dan disuruh masukin nilai, aku sempet kecewa banget pas liat nilai aku yang benar-benar gak sesuai rapot. Gak sesuai nya bukan ketinggian, tp malah kerendahan jauh bgt :( bayangin aja, nilai 85 jadi 75 di pdss SNMPTN ;'( huaaa sedih banget -_-. Akhirnya aku laporin masalah ini ke guru aku yang ngurus bagian nilai rapot, Alhamdulillah langsung di urusin walaupun aku sampe sore di sekolah nungguin revisi nilainya hehe. Pas udah di revisi dan cek lagi, Alhamdulillah udah sesuai dan aku langsung verifikasi nilainya. Jadi tahunan 2017 itu semua siswa daftar dulu dengan nilai tinggi rapot masing-masing. Nah setelah itu, dipilih 50% siswa yg berhak memilih PTN dalam SNMPTN. Beda sm thn 2016 yang dapat memilih PTN adalah 75%. Nah, aku kan dari kelas IPS yang jumlah pararelnya 63 orang, jadi yang lolos tahap 50% itu ada 31 orang. Setengah nya gitu.
Beberapa hari kemudian pengumuman 50% (lupa tanggal nya hehe), aku ngecek akun SNMPTN aku di rumah, waktu itu aku lagi kurang enak badan jadi gak sekolah. Pas ngecek, Alhamdulillah.. aku bisa ikut SNMPTN :) Yeaay.. meskipun dibilang sm beberapa motivator katanya jangan ngarep SNMPTN, karena SNMPTN itu untung-untungan, tapi aku yakin aja gatau kenapa. Haha. (Pede aja gitu). Waktu milih PTN, awalnya aku milih UI prodi Ilmu Ekonomi. Tanpa pilihan kedua. Tapi orang tua kurang mendukung gitu, katanya kalo dapat UI, UI itu lumayan mahal dan takut juga gak lolos :'( wkwk. Aku disuruh milih UIN Jakarta aja, tapi aku mikir kan ada jalur span-ptkin khusus UIN se-Indonesia. Jadi masih ragu-ragu gitu. Masih bingung banget milih Univ apa. Keesokannya, pas aku sekolah, temen-teman aku bilang aku jangan milih UIN karena kan ada jalur span-ptkin, pilih UI aja. Bingung kan... Huhu.. pengen UI tapi aku optimistis di UIN. Labil banget ya emang. Soalnya buat sbmptn pun aku sama sekali gak siap. Huaa.. disini aku benar-benar bimbang. Aku juga gak tau kenapa, aku dapat mimpi kalo aku nangis gak lolos UI. Waduh apa banget mimpinya :v terus keesokannya aku mimpi lagi aku pake almet UIN. Lahh... Aku akhirnya berdoa untuk diberikan yang terbaik. Dan saat itu aku langsung bilang sama orang tua aku, aku udah yakin untuk memilih UIN. Karena papa juga alumni UIN (dulu masih IAIN) jadi papa juga mendukung banget. Dan uin juga kan berbau islami yang sangat kental. Aku juga berasal dari sekolah Islam (MI, MTs, MA) jadi pasti gak kaget kalo masuk UIN. Yaudah aku pun memilih UIN di pilihan pertama. Nah lagi-lagi labil soal jurusan !! Huft -_-.

Awalnya aku memilih Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di pilihan pertama dan Akuntansi di pilihan kedua. Tapi lagi-lagi, orang tua lebih mendukung aku di akuntansi. Karena prospek nya lebih menjamin. Nah pas mau finalisasi, masalah foto pun datang. Aku upload foto lewat tablet, itu fotonya aneh. Gak jelas munculnya -_-. Jadi aku datang ke warnet (itu udah malam juga). Nah pas di warnet, baru deh bener fotonya. Tapi komputer nya ngelag gitu -,- terus mati. Pas di nyalain, disuruh milih ulang pilihannya karena tadi kesalahan foto. Ya Ampuun, di ulang lagi -_- yaudah aku mencet buru-buru karena Ade aku udah cerewet banget minta gantian komputer buat main GTA -,-. Pilihan kedua pun aku asal mencet pilih Universitas Siliwangi wkwk. Aku cuma liat gambar univnya aja kalo menarik ya aku pilih wkwk (aneh bgt emang ya). Nah pas udah di finalisasi, ternyata pilihannya kebalik!! Yang tertera malah pilihan 1 Akuntansi, pilihan 2 IESP. Waduh.. yaudah deh, aku berdoa aja kali aja lolos :v lagian juga sama-sama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis kok. Hoho. Terus juga gak nyesel milih akuntansi karena aku pengen banget S2 di Jepang dan universitas yang aku tuju itu ada accountingnya wkwk. Seenggaknya kalopun ambil jurusan ekonomi bisnis nanti, ya sama-sama belajar itu kok hehe. Doain aja yaaa supaya aku bisa S2 di Jepang hihi. Ya walaupun gak S2 disana, setidaknya menginjakkan kaki disana seharian penuh pun udah seneng banget haha.

Lanjut cerita,setelah finalisasi, masalah pun lanjut lagi -_-. Papa aku seneng banget pas tau aku dapat beasiswa full di Esa Unggul. Jadi beliau udah nyuruh aku kuliah di sana aja. Karena gratis sampe lulus. Buru-buru pun aku disuruh daftar ulang ke kantor pos. Yaudah aku daftar ulang aja, lumayan juga kan. Nah tapi ada syarat nilai UN harus 75. Waduh..berat juga. Intinya aku juga belajar supaya dapat nilai 75 supaya kalo aku gak lolos SNMPTN, aku bisa ambil beasiswa di sana.

Ortu Aku juga nyuruh aku coba tes di STAN. yaudah Aku juga ikut tes STAN waktu itu. Kebetulan banget tempat tesnya di UIN Jakarta. Nah pas nyari tempat tes, aku ajak temen aku yang kepengen banget masuk Ushuluddin UIN. Aku si gak yakin dari awal buat lolos STAN karena gak ada persiapan (emang gak siap banget huhu). Anehnya abis nyari tempat tes, kita malah foto-foto di bacaan UIN. Haha. Karena emang pengen sama-sama masuk UIN wkwk. Kita juga ngiterin kampus 1 UIN haha. Dan sampe ketemu sama kakak-kakak yang nawarin buku tes spmb UIN. Kita sekalian nanya-nanya tentang UIN. Walaupun gak beli bukunya :v
Setelah itu pulang deh.

Besoknya tes STAN, 3 hari kemudian pengumuman SNMPTN. Deg-degan banget pas buka, malah jam 2 siang pengumumannya huhu. Pas udah jam 2 tepat, aku langsung buka akun aku, dan hasilnya warna hijau! Kalo aku baca di Mbah Google sih,kalo warna hijau itu lolos😁 ge'er duluan ya hahaha. Nah pas aku screen ke bawah, "Selamat Anda Lolos SNMPTN 2017. Pada Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta, prodi Akuntansi" :3 uhh senengnya... Dan karena masih terikat beasiswa di esa unggul, papa aku nyuruh aku batalin beasiswa nya. Karena kalau udah dapat SNMPTN gak diambil, nanti malah di blacklist sekolahnya dan adik kelas gak bisa ambil SNMPTN UIN lagi. Ya udahlah aku batalin aja meskipun nilai juga ternyata 75,25 (sampe target).

Beberapa hari kemudian, pengumuman hasil seleksi STAN. Udah aku tebak, aku gak lolos wkwk. Aku pun verifikasi nilai ke UIN Jakarta dan tak berapa lama kemudian daftar ulang setelah ditentukan UKTnya. Ternyata setelah daftar ulang, masih ada tes TOEFL dan TOAFL. Yaudah jalani aja yakan.. hihi. Sekarang semua udah selesai, dan tinggal daftar ulang pbak tgl 8-22 Agustus 2017, dan setelah itu PBAK 22-26 Agustus 2017 dan masuk perkuliahan 1 September 2017. Aku ucapkan semangat buat yang lagi berjuang tes mandiri di PTN dan sukses untuk hasil sbmptn maupun UMPN (Politeknik).

Makasih banget yang baca blog aku :') dan maaf kalo ada salah kata hehehe..
Wassalamu'alaikum..